Hilangnya Kewarasan

Tadinya saya ingin menulis perihal hilangnya KTM tapi itu bukanlah suatu hal yang mesti saya besar-besarkan, meskipun sukses bikin saya uring-uringan karena tidak bisa masuk ke bilik referensi untuk keperluan tugas akhir huhuhu. Ada hal yang lebih penting gaes, yaitu hilangnya karakter mahasiswa. Duh!

Alhamdulillah 6 Februari lalu saya berkesempatan datang di sebuah acara wisuda, bukan sebagai wisudawan ataupun yang mendampingi wisudawan melainkan hadir sebagai relawan kebersihan alias patroli sampah di kampus sendiri. Sebagai mahasiswa di kampus jantong hatee rakyat Aceh, kami tak pernah takut telat wisuda. Karena apa? Baiknya rektor membikin kebijakan wisuda empat kali periode dalam setahun yaitu Februari, Mei, Agustus, dan November. Bagi kami yang sedang tugas akhir, bisa langsung bikin rencana kira-kira mau wisuda bulan berapa ya. Tapi jangan tanyakan saya maunya kapan, yang pasti secepatnya hehehe.

Untuk satu kali periode, jumlah mahasiswa yang diwisuda bisa mencapai seribuan lebih dan dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dari program S1-S3. Setiap wisudawan bisa mengundang satu orang wali untuk mendampinginya saat prosesi. Setiap orang yang ikut prosesi berhak mendapat satu kotak snack yang isinya air mineral gelas dan tiga potong kue ditambah tisu dan alas kertas di dalam kotak kue. Bisa terbayang berapa banyak sampah yang dihasilkan? Saya saja merinding membayangkannya. Resolusi kampus di tahun 2019 adalah bebas sampah. Tapi sejalankah dengan karakter mahasiswa yang baru saja lulus itu?

Kampus berharap agar ilmu yang selama ini didapatkan bisa diamalkan dan diabdikan untuk masyarakat. Ilmu-ilmu yang bersinggungan selama ini dengan mahasiswa selain membentuk hard skill sesuai peminatan jurusan, juga soft skill–value yang ada di dalam diri mahasiswa. Hal ini bisa kita sebut sebagai nilai karakter. Karakter seseorang mungkin bakal sulit diubah, tetapi melalui pendidikan dan pembiasaan suatu karakter itu bisa dibentuk dan tak pelak juga bisa diubah. Salah satu karakter yang krisis saat ini adalah peduli lingkungan. Mungkin ada yang berdalih, “Aku kan bukan mahasiswa peminatan IPA tapi IPS lho … bla … bla.” Saya akan menjawab, “Masih zaman merengek kayak begitu?” Duh, ke laut saja kalau begitu sebab bisa jadi kurang piknik. Cukup jadi manusia waras saja untuk bisa peduli lingkungan. Ya iyalah, masa mau tinggal gratis saja di bumi tapi tidak mau ikut menjaga, gimana sih. Kita tidak perlu dulu cerita muluk-muluk soal peduli lingkungan ini sampai harus tanam-tanam pohon skala besar segala. Jika sampah sendiri saja tak sanggup untuk dipertanggungjawabkan. Betul atau betul? Loh kok berasa kayak Rara Dedeh jadinya, ahaha.

Baiklah, patroli sampah kali ini adalah relawan-relawan yang diinisiasi oleh Zero Waste Aceh. Tugas kami adalah patroli sampah sekitar gedung tempat acara wisuda dilakukan, mengumpulkan kotak snack para wisudawan dan tamu undangan, mengumpulkan sampah orang berjualan di sekitarnya, dan nantinya memilah-memilih antara sampah kotak/kertas, botol plastik, organik, residu dan sampah yang masih bisa diolah akan diantarkan ke kantor bank sampah kampus untuk proses 3 R (Reduce, Reuse, Recycle). Sebelum prosesi wisuda selesai, kami berjalan di berbagai titik untuk edukasi tentang sampah kepada pedagang dan pengunjung agar sama-sama saling menjaga lingkungan. Tak lupa pula, sudah ada berbagai tong sampah dengan label masing-masing agar orang dengan mudah mengetahui buang sampah sesuai tongnya apakah itu kotak kue, atau organik, botol plastik juga residu.

Saat Zuhur menjelang, prosesi selesai. Di pintu-pintu aula, sudah ada kami sebagai relawan yang menunggu sembari membawa kantong plastik besar untuk menampung sampak kotak kue. Hal yang mengejutkan adalah banyak sekali minuman dan makanan yang tak habis dimakan bahkan ada kue yang hanya digigit sedikit. Rasanya mubazir banget ya. Seperti sejalan ya dengan peringkat kedua sebagai yang paling konsumtif. Hanya digigit sedikit pada satu kue lalu coba lagi kue berikutnya. Dan juga banyak kue yang tidak dimakan sama sekali. Duh. Padahal banyak saudara kita yang membutuhkan makanan di luar sana agar bisa tetap hidup. Miris sekali. Seharian bekerja memisahkan sampah-sampah sesuai kategori sebenarnya lelah juga, namun ini adalah salah satu cara menjaga kewarasan. Saya akui sampah dari dalam gedung lumayan ‘bersih’ jadi meskipun banyak kami tidak terlalu kewalahan memisahkannya sedangkan sampah yang dari luar gedung masih dalam keadaan bercampur dan sangat kotor karena sampah organik berbaur dengan sampah-sampah yang semestinya bisa diolah kembali. Saat melihat semangat dosen-dosen saya ikut bersinergi, rasanya naluri saya bergidik sekaligus malu. Mengapa harus dosen sih yang membereskan sampah-sampah mahasiswa? Kurang apalagi mereka sudah mentransfer ilmunya dan kini ditambah menuntaskan masalah mahasiswa. Ah, sungguh malu.

Sampahmu adalah tanggung jawabmu, begitulah bila masih waras. Kalau setingkat sampah saja, kita susah mengatasinya konon lagi mengatasi hal-hal besar lainnya? Sudah saatnya mulai pelan-pelan membangun soft skills, jika tiba-tiba bos di tempat kerja melihatmu buang sampah serampangan, apa tak ‘kan ditegur? Pasti kan. Itu setingkat bos ya, masih bisa toleransi sebagai manusia. Kalau ditegur dengan alam bagaimana? Dengan banjir atau longsor misalkan, apa kita bakal sanggup menghadapinya? Tentu tidak ya.

 

Iklan

4 tanggapan untuk “Hilangnya Kewarasan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s