Ramadhan bersama Bapak

Ramadhan kali ini entah kenapa aku ingin Bapak menemaniku. Saat terjaga, aku bisa melihat Bapak. Bisa tertawa renyah sembari menyantap sahur. Bisa berboncengan dengan Bapak saat ke Masjid. Saat udara masih bening, aku ingin menghirup pagi bersama Bapak sambil membicarakan apapun yang tak penting.

Kutemani Bapak bekerja, memperbaiki barang apapun yang rusak. Tentu saja aku memperhatikan wajah Bapak lekat-lekat, menghitung tiap peluh keringat yang mengucur dari wajah Bapak, dan sesekali akan aku tanyakan: “Ini diginiin supaya apa sih Pak?”

Kemudian Bapak terus menjelaskan panjang dan lebar dengan mimik serius. Setiap hal yang Bapak lakukan selalu ada filosofi yang menjadi pijakannya. Bangga sekali aku memiliki seorang ayah seperti Bapak. Jika Bapak sudah berbicara, aku selalu tertegun, dan membatin: “Ah, Bapak sudah seperti Mario Teguh saja.” Padahal tak pernah sekalipun Bapak menonton siaran itu.

Aku masih saja bergelut dengan alam pikiranku dan tak hentinya berdecak kagum. Tangan Bapak masih saja tak lepas bekerja. Padahal Bapak lagi concern menerangkan jawaban dari pertanyaanku tadi. Dan Bapak lalu berujar: “Jadi Bapak gak diupahin dengan segelas sirup nih karena sudah menjawab pertanyaanmu?”

Aku hanya tersenyum dan segera berlari ke dapur. Dengan polosnya aku kembali lagi ke depan dan menemui Bapak. Bapak sudah sedari tadi tertawa geli karena mengelabuiku. Lalu aku ngambek dan berkata, “Kan puasa lho, Pak. Ih Bapak ini paling bisa ngerjain aku. Huft.” Kalau sudah begini, apalagi jurusan andalannya selain menggelitikku hingga aku menyerah untuk berhenti ngambek. Ah, Bapak paling bisa meredakan emosiku. Aku tak henti-hentinya tersenyum mengingat itu. 

Tak terasa azan Zuhur berkumandang, Bapak langsung bersiap-siap berangkat salat. Dan aku memaksa ikut. Pun Asar juga sama hingga sorenya kita berburu menu berbuka. Setiap penganan terjaja yang dilihat, pasti Bapak selalu melontarkan pertanyaan: “Mau ini?” Aku pun bosan menggelengkan kepala. Meskipun warna-warni rupanya pun beragam bentuk, tetap terlihat sama saja bagiku. Padahal semua ini hanya akal-akalanku saja agar bisa jalan-jalan bersama Bapak. Tetap saja dibelikan apapun yang menjadi kesukaanku meskipun aku selalu tak berselera tiap akan berbuka begini. Aku ingin seperti ini saja, tak pernah melepaskan rangkulanku pada Bapak. Bolehkah?

Bedug Surau mengejutkanku. Aku terjaga. Ah, ternyata ini hanya bebungaan yang mekar tiap kali aku terlelap; sebuah penyesalan tiap kali Ramadhan tiba. Di saat bersamaan, azan Magrib memanggil. Tetiba air mataku menetes. Bayangan komedi putar terlintas dan aku melihat Bapak berjibaku menerobos kerumunan manusia untuk sekadar menepati janjinya padaku meskipun aku cukup lama menunggu kedatangan Bapak.

Dan komedi putar pernah menjadi saksi bahwa pelukan Bapak masih yang paling ternyaman. Belasan tahun berlalu begitu cepat, ternyata banyak yang berubah di antara kita. Bisakah Bapak memelukku sekali lagi? Aku sungguh kesepian di sini menanti kedatangan Bapak.

Iklan

5 tanggapan untuk “Ramadhan bersama Bapak”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s