Terkungkung Rindu

Tadi sore aku lihat lagi potret kedua orangtuaku di galeri HP, yang kemarin baru saja foto tersebut diunggah di laman Facebook ibu. Memandangi lamat-lamat potret itu, membikin air mataku semakin mengalir. Ada sendu yang tak terjamah sekian waktu, hingga pada saatnya hal itu seperti bom waktu. Tangisku pecah dan luapannya tak tertahankan. Takdir ternyata membuat kita harus tinggal terpisah-pisah begini. Aku selalu menanti-nanti ruang dan waktu kita berkumpul kembali utuh. Sangat berat melewati semua ini.

Aku sempat menunjukkan orangtuaku masing-masing pada sahabatku, Rita. Dia berkomentar: “Ayahmu ganteng juga ya. Sedangkan ibumu itu awet muda … dan cantik.” Aku tersenyum mendengarnya dan berujar: “Masa sih, Ta?” Sesiapa yang melihatnya mungkin tak lebih mengenal mereka dibanding aku. Aku menyadari bahwa dengan umurku yang tak lagi muda ini, usia mereka sudah berada di ufuk senja. Terasa indah terlihat di penghujung sore, tapi lupa bahwa keberadaannya tak cukup lama untuk bisa dinikmati.

Sosok mereka selalu membayangi hari-hariku belakangan ini. Jenggot ayahku tak kusangka sebagian sudah memutih begitu saja. Gurat-gurat kerutan di area mata ibuku semakin jelas. Begitu banyak yang telah kulewati, hingga proses menua itu tak menjadi perhatian utamaku. Dan hal yang tak pernah absen kutilik setiap hari ialah akun medsos ibuku. Sempat beberapa waktu lalu ia mem-post tulisan temannya tentang kerinduan terhadap anaknya dengan status “dibagikan”. Aku memang belum pernah sekali pun mendengar ia mengadu tentang kerinduannya kepadaku hingga detik ini.

Aku tahu bagaimana perasaannya ketika terkungkung rasa rindu. Dan yang aku tahu, apalah arti kata-kata di saat ia lebih memedulikan kepentingan anaknya dengan dalih takut mengganggu aktivitasku sehingga telepon yang kutunggu-tunggu tiadalah bersambut. Kesedihan dan penyesalanku menjadi-jadi, bahwa masa sibukku terkadang lebih panjang dari rasa rindunya yang gagal terungkapkan. Padahal waktunya menunggu tak lebih lama dari masa sibukku yang tak berarti apa-apa itu. Maafkan aku, Ibu. Salam rindu yang sama besarnya dariku yang kutitipkan pada Allah.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Terkungkung Rindu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s