Uncategorized

Orangtua juga manusia.

You don’t choose your family. They are God’s gift to you, as you are to them. — Desmond Tutu

Pernah ada hari-hari begitu melelahkan ketika berada di rumah. Betapapun situasi kerap menghakimi dan menyudutkan dan ada momen yang berkali-kali tak berpihak kepadaku. Aku memilih tetap bersyukur dan selalu mencari alasan tepat agar benang kusut yang ada di hidupku bisa diurai. Dan aku tetap menghargai keberadaan orangtua karena aku tahu bahwa aku tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga seperti apa.

Kalau boleh memilih, mungkin aku maunya dilahirkan dari keluarga yang kekayaannya sampai delapan turunan, yang bijaknya luar biasa, yang apa-apa selalu dituruti, yang ilmunya hebat bahkan punya popularitas dan kekuasaan, serta yang mampu berbelas kasih seluas samudera Hindia. Pokoknya sempurna. Namun, aku kan tidak bisa meminta seperti itu kepada Tuhan. Tuhan juga sudah pasti punya alasan khusus mengapa aku terlahir dari keluarga dengan kondisi seperti ini dan seperti itu.

Keluarga yang kita sebut dengan orangtua juga masih manusia, sama seperti kita. Adakalanya mereka membuat kesalahan, melakukan kekhilafan, bahkan menyakiti perasaan anaknya. Namun, sebagai anak, lantas harus kita balas dengan hal yang sama? Tentu tidak. Yang bisa kita lakukan adalah tetap menjaga adab dan terus mendoakan orangtua agar menjadi lebih baik. Itu lebih dari cukup.

Aku pun pernah memiliki konflik dengan orangtua, terkhususnya pada ayah. Saking pelik dan menyakitkannya permasalahan yang aku hadapi, aku bahkan tak sanggup menceritakan itu kepada siapa pun. Saat itu, aku tahu betul bahwa yang salah adalah ayah karena meninggalkan cedera di hati ibu dan anak-anaknya. Dan aku kira semua masalah pasti ada jalan penyelesaiannya. Hingga hari itu, ayah kembali pulang. Ya seakan tak pernah ada apa-apa. Aku menerima dan memaafkannya.

Aku mesti berlapang dada untuk itu dan mulai berdamai terlebih kepada diri sendiri. Sejujurnya lelah sekali jika harus berkutat dengan perasaan kesal dari waktu ke waktu. Sungguh, tidak ada untungnya juga buatku.

Satu hal yang pasti, orangtua tetaplah orangtua, yang darahnya akan selalu mengalir di tubuhku bagaimanapun kondisinya. Mereka juga pernah khilaf, begitupun kita sebagai anak. Yang mesti kita lakukan adalah terus mengingatkan mereka jika berbuat salah. Jika terlalu payah, kita masih bisa mendoakan mereka menjadi lebih baik tanpa menghakimi keadaan.

Orangtua sudah pasti menyayangi anaknya. Saat anak berbuat salah, orangtua dengan sukarela memaafkan dan memeluk anaknya kembali. Lantas, kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang sama? Ketika semuanya sudah kembali ke koridor semula, tutuplah pintu masa lalu dengan tidak mengingatnya lagi. Kalaupun belum, kita hanya perlu bersabar dan terus berdoa. Sebab, seperti apa pun kondisi orangtua, tugas kita adalah mendoakannya.

Betapapun pernah ada hari-hari yang buruk saat berada di rumah. Percayalah, akan selalu ada hari-hari berikutnya yang mewangi surga di dalamnya. Jika saat ini belum, tak apa. Kita hanya perlu menanti datangnya hari itu. Hidup ini memang begitu, bukan?  — Rara

Banda Aceh, 14 Oktober 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s